Minggu, 15 Februari 2015

kau adalah pahlawan

Suasana menjadi hening setelah pertengkaran anak dengan ayahnya. aku marah karna ayah yang trus memaksaku untuk masuk pesantren. Selama ini aku tak pernah mendapat perhatian yang sempurna dari mereka. Mereka selalu sibuk dengan bisnisnya.
Tok... tok...tok...
“mas rudi sudah waktungya makan malam”kata mbok inah yang bekerja di rumahku.
“nanti saja mbok, aku lagi males”
“tapi di bawah bunda dan ayah mas rudi sudah nunggu”
Aku membukakan pintu, Dengan perasaan senang karna baru kali ini aku bisa merasakan makan malam bersama mereka, tapi disisi lain aku juga marah karna ayah yang terus memaksa untuk masuk pesantren.
“Rudi ayah mohon sama kamu, sekali ini saja kamu turutin permintaan ayah”kata ayah setelah makan malam selesai.
“kenapa harus rudi terus yang ngerti’in ayah, ayah dan bunda egois nggak pernah ngerti’in rudi” kataku dengan nada yang keras.
“tapi rudi, ayah dan bunda ingin yang terbaik buat kamu agar kamu menjadi anak yang sholeh” kata bunda dengan nada yang penuh harap agar rudi mau nurutin ayah. Aku tidak membantah perkataan mereka, namun aku langsung pergi menuju kamarku.
Menjadi anak band adalah cita-citaku sejak dulu namun kini setelah lulus SMP aku harus masuk pesantren.
Sore hari yang cerah tak sedikitpun menandakan akan turun hujan. dengan berat hati aku menuruti permintaan ayah masuk pesantren. Namun tak semudah itu aku menerima permintaan ayah, aku mengajukan beberapa syarat untuk ayah, dan ayah menyetujuinya. Perjalanan dari bandung ke jogja begitu jauh dan membosankan bagiku.
Akhirnya aku dan orang tuaku telah sampe di pesantren salaf yang tidak terlalu terkenal tapi juga lumayan banyak santrinya. KH. Ahmad Syukron pengasuh pesantren itu  adalah sahabat ayah.
“assalamualaikum”
“wa’alaikum salam”.
“pak kyainya ada?” kata ayah pada santri itu.
“ada, monggo masuk dulu, sebentar saya panggilkan” kata santri itu dan Santri itu masuk kedalam untuk memanggil pak kyai.
Cukup lama menunggu diruangan tamu yang tidak begitu luas kalau dibanding dengan ruang tamu dirumahku. Akhirnya pak kyai keluar juga setelah lama menunggu.
“owalah sampean to, bagaimana kabarnya? Sudah lama tidak berjumpa rupanya” kata pak kyai  menyapa ayahku yang sudah lama kenal namun sudah lama pula tidak berjumpa.
“alhamdulillah saya sekeluarga sehat semua pak kyai” kata ayah
“kok sampean iku nggak ngabari dulu to kalau mau kesini?”
“ya saya minta maaf pak kyai, saya juga mendadak kok datang kesini”
“hallah biasa saja, manggilnya gak usah pake pak kyai segala to, emang ada acra apa?”
Ayahku menjelaskan maksud kedatangannya untuk memasukkan aku ke pesantren. aku yang tidak pernah mengenali dunia pesantren dan tidak pernah mengrti tulisan yang berbahsa arab.
“semua santri di sini juga awalnya seperti kamu, mereka ada yang tidak bisa menulis bahkan mengenal huruf arab pun tidak tau. Tapi dengan mereka terus berusaha dan belajar akhirnya mereka bisa” kata pak kyai menjelaskan kepadaku agar aku tidak merasa minder.
Tapi aku masih tidak percaya diri dengan kemampuanku yang sama sekali tidak aku miliki. Ayah selulu percaya kalau aku pasti bisa seperti yang lainnya. Tak lama ayahku setelah silaturahmi dengan teman lamanya dan menitipkan aku kepada beliau, akhirnya orang tuaku berpamitan pulang.
Kini aku benar-benar merasa sendiri, aku tak ingin dikenal sebagai cowok yang cengeng, aku harus telihat tegar walau cita-citaku sebagai anak band musnah tapi aku tak ingin menyerah begitu saja, bagaimanapun aku tetap ingin menjadi anak band.
Seminggu sudah aku di pesantren tapi belum pernah mengikuti kegiatan yang ada dipesantren sekalipun.
“kamu lagi apa disini sendirian? aku juga sering melihat kamu sendirian terus? Kenapa enggak gabung dengan teman yang lain?” kata abel salah satu santri putra yang ngabdi didalemnya pak kyai sekaligus yang diamanati untuk mengawasiku disini oleh pak kyai. Namun aku hanya diam dan mentapanya.
“ karna memang seharusnya aku tidak disini” kataku ketus dan meninggalkan kang abel.
Adzan isya baru saja berkumandang, namun aku masih saja diam dan memainkan gitar kesayanganku. aku masih saja selalu sendiri tidak seperti teman pada umumnya yang mudah berbaur dengan teman yang lainnya.
“rudi kamu di suruh abah ke ndalemnya” kata kang abel. aku tak berkata apapun, namun aku memenuhi tuntutan kang abel.
“assalamualaikum pak kyai”aku memberikan salam didepan rumah dan melihat pak kyai sedang menungguku.
“walaikum salam, sini nak” kata abah. aku mendekati pak kyai untuk mendengarkan apa yang dikatakan pak kyai. Jantungku cukup berdebar keras ketika mendekati pak kyai.
“enggak papa kesini saja, abah Cuma ingin ngobrol-ngobrol sama kamu”
aku duduk di samping pak kyai seraya siap untuk mendengarkan perkataan beliau. Namun pak kyai masih diam dan merokok. Aku hampir tidak sabar menunggunya. Namun aku tetap diam dan menunggu pak kyai.
“gimana sekolahnya, enggak ada masalah to?”
“enggak ada pak kyai”kataku menjawab pertanyaan beliau.
“sampean ngajinya sama abah saja ya, kita mulai dari dasar biar kamu cepat bisa seperti mereka”kata pak kyai.
Aku salut dengan pak kyai yang mau ngajarin aku mengaji dari awal seorang diri, mungkin pak kyai tau kalau aku jarang mengikuti kegiatan mengaji karna aku merasa minder dengan yang lain. Pak kyai begitu perhatian terhadapku, coba ayah dan bunda seperti pak kyai mungkin aku merasa mendapat perhatian yang sempurna.
Sudah sebulan aku belajar dengan pak kyai dan aku senang karna aku sudah merasa ada kemajuan yang aku alami. Dari pertama aku tak mengerti huruf hijaiya sekarang  aku sudah mengetahuinya, dan sekarang aku sudah bisa membaca al-qur’an dengan sempurna.
“sekarang kamu sudah bisa membaca al-qur’an dengan sempurna, sekarang kamu tinggal belajar kitab yang diajarkan disini” kata pak kyai, namun aku tetap diam didepan pak kyai tapi tak berani menatapnya.
“ya sudah besok sampean jangan bolos ngaji terus kalau ingin cepat bisa seperti yang lain, nanti kang abel bantuin kamu belajar kitab diluar jam kegiatan”lanjut pak kyai. Aku masih tetap diam.
“ya sudah sana kembali ke komplek”. Akupun keluar meninggalkan beliau. Aku sangat berterima kasih sama beliau yang rela meluangkan waktunya untuk mengjariku mengaji sampai bisa dan dengan penuh kesabaranya dalam membimbing.
Dan sekarang aku sudah mulai mengikuti kegiatan di pesantren dengan sempurna tanpa bolos. Dan ternyata dipesantren aku juga tetap bisa memaikan gitar kesayanganku, aku mengikuti eksta hadroh yang ada dipesantren walau alatnya masih dengan alat hadroh tapi aku kadang sholawatan dengan gitarku. teman-teman yang lain sangat menyukainya, dan kadang aku juga sering mencampurkan suara dari alat hadroh dengan gitar yang aku mainkan.
“kamu lagi apa rud?” tanya hendra teman sekamarku.
“aku lagi buat syair untuk pentas seni besok”
Hari ini akhir tahun ajaran di pesantren, dan akhirnya aku naik kelas dengan kemampuanku sendiri. Lomba-lomba dan kegiatan lain seperti pentas seni diadakan setiap tahun setelah ujian kelas dipesantren.
“kalian tau tidak kalau teman kita dipesantren ini ada anak band” kata kang ambar sebagai MC di acara pentas seni ini. Namun teman-teman santri putra maupun putri masih heran siapa yang di maksud oleh kang ambar tadi.
“hemmm... sepertinya pada penasaran nih, kita langsung saja panggilkan, ini dia anak band dari bandung, MUHAMMAD RUDI ALBIRD”kata kang ambar dengan lantang
Tepuk tangan meriah mulai terdengar ditelingaku. Aku menaiki panggung yang sudah disiapkan dan dipersilahkan. Aku mulai memainkan gitarku di panggung.
“aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk orang yang bejasa kepada kita, mungkin kalian sudah pernah mendengarnya”
Malamku yang indah Bulanku bersinar....
Kubawa kitab kuning di tanganku...
Selamat malam semua...
Ku nantikan dirimu di depan kelasku menantikan kami...
Ustadzku tercinta....
Ustadzku ku tersayang...
Tanpa mu apa jadinya aku...
Tak bisa baca kitab...
Tak bisa tulis arab...
Ustadzku terima kasihku..
Nyatanya diriku kadang buatmu marah, namun segala maaf kau berikan..
lagu yang ku nyanyikan telah selesai dan tepuk tangan dari teman santri membuatku merasa seperti anak band yang terkenal.
Acara pentas seni dan pembagian rapot telah selesai, hari ini para santri diizikan untuk pulang. Namun aku masih di sini menunggu ayah yang akan menjeputku.
“rudi kamu di suruh abah ke ndalem, katanya ada orang tuamu menjemputmu”kata kang ambar
“Akhirnya ayahku datang juga”kataku dalam hati, aku bergagas menuju ndalem pak kyai.
Aku melihat disana sudah ada ayah dan bundaku bersama pak kyai di ruang tamu.
“assalamualaikum”kataku memberikan salam
“walaikum salam”jawab meraka serempak.
Aku mendekati ayah dan bunda untuk memberikan salam dengan mencium tangannya dan untuk menunjukan kalau aku bukan rudi yang dulu. Dan aku duduk disamping ayah.
“sekarang rudi sudah pintar ngaji kitab”kata pak kyai memberi informasi tentang aku kepada orang tuaku.
“ya alhamdulillah kalau begitu pak, saya tadi juga lihat kalau sekarang rudi sudah berubah menjadi anak yang sholeh”
“bagaimana rud menurut kamu pak kyai orangnya baikkan?”kata ayahku kepdaku
“bagi rudi pak kyai bukan sekedar  guru bagi rudi dan teman-teman tapi pak kyai juga pahlawan bagi rudi”kataku kepada ayah, menunjukan kalau aku berterima kasih sekali kepada pak kyai.
Akhirnya kami berpamitan untuk pulang kebandung. Rasanya rindu sekali sama daerahku yang sudah setahun tidak aku kunjungi. Dan sekarang aku pulang dengan rudi yang baru.

“trimakasih abah, trimakasih ustadz dan trimakasih untuk orang tuaku yang telah mengantarkanku ketempat yang menuju jalan yang diridhoi”kataku dalam hati dengan penuh kebanggan kepada mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar