Suasana menjadi hening setelah pertengkaran anak dengan ayahnya. aku
marah karna ayah yang trus memaksaku untuk masuk pesantren. Selama ini aku tak
pernah mendapat perhatian yang sempurna dari mereka. Mereka selalu sibuk dengan
bisnisnya.
Tok... tok...tok...
“mas rudi sudah waktungya makan malam”kata mbok inah yang bekerja
di rumahku.
“nanti saja mbok, aku lagi males”
“tapi di bawah bunda dan ayah mas rudi sudah nunggu”
Aku membukakan pintu, Dengan perasaan senang karna baru kali ini aku
bisa merasakan makan malam bersama mereka, tapi disisi lain aku juga marah
karna ayah yang terus memaksa untuk masuk pesantren.
“Rudi ayah mohon sama kamu, sekali ini saja kamu turutin permintaan
ayah”kata ayah setelah makan malam selesai.
“kenapa harus rudi terus yang ngerti’in ayah, ayah dan bunda egois nggak
pernah ngerti’in rudi” kataku dengan nada yang keras.
“tapi rudi, ayah dan bunda ingin yang terbaik buat kamu agar kamu
menjadi anak yang sholeh” kata bunda dengan nada yang penuh harap agar rudi mau
nurutin ayah. Aku tidak membantah perkataan mereka, namun aku langsung pergi
menuju kamarku.
Menjadi anak band adalah cita-citaku sejak dulu namun kini setelah
lulus SMP aku harus masuk pesantren.
Sore hari yang cerah tak sedikitpun menandakan akan turun hujan. dengan
berat hati aku menuruti permintaan ayah masuk pesantren. Namun tak semudah itu aku
menerima permintaan ayah, aku mengajukan beberapa syarat untuk ayah, dan ayah
menyetujuinya. Perjalanan dari bandung ke jogja begitu jauh dan membosankan
bagiku.
Akhirnya aku dan orang tuaku telah sampe di pesantren salaf yang
tidak terlalu terkenal tapi juga lumayan banyak santrinya. KH. Ahmad Syukron
pengasuh pesantren itu adalah sahabat
ayah.
“assalamualaikum”
“wa’alaikum salam”.
“pak kyainya ada?” kata ayah pada santri itu.
“ada, monggo masuk dulu, sebentar saya panggilkan” kata santri itu
dan Santri itu masuk kedalam untuk memanggil pak kyai.
Cukup lama menunggu diruangan tamu yang tidak begitu luas kalau
dibanding dengan ruang tamu dirumahku. Akhirnya pak kyai keluar juga setelah
lama menunggu.
“owalah sampean to, bagaimana kabarnya? Sudah lama tidak berjumpa
rupanya” kata pak kyai menyapa ayahku yang
sudah lama kenal namun sudah lama pula tidak berjumpa.
“alhamdulillah saya sekeluarga sehat semua pak kyai” kata ayah
“kok sampean iku nggak ngabari dulu to kalau mau kesini?”
“ya saya minta maaf pak kyai, saya juga mendadak kok datang kesini”
“hallah biasa saja, manggilnya gak usah pake pak kyai segala to,
emang ada acra apa?”
Ayahku menjelaskan maksud kedatangannya untuk memasukkan aku ke
pesantren. aku yang tidak pernah mengenali dunia pesantren dan tidak pernah
mengrti tulisan yang berbahsa arab.
“semua santri di sini juga awalnya seperti kamu, mereka ada yang
tidak bisa menulis bahkan mengenal huruf arab pun tidak tau. Tapi dengan mereka
terus berusaha dan belajar akhirnya mereka bisa” kata pak kyai menjelaskan
kepadaku agar aku tidak merasa minder.
Tapi aku masih tidak percaya diri dengan kemampuanku yang sama
sekali tidak aku miliki. Ayah selulu percaya kalau aku pasti bisa seperti yang
lainnya. Tak lama ayahku setelah silaturahmi dengan teman lamanya dan
menitipkan aku kepada beliau, akhirnya orang tuaku berpamitan pulang.
Kini aku benar-benar merasa sendiri, aku tak ingin dikenal sebagai
cowok yang cengeng, aku harus telihat tegar walau cita-citaku sebagai anak band
musnah tapi aku tak ingin menyerah begitu saja, bagaimanapun aku tetap ingin
menjadi anak band.
Seminggu sudah aku di pesantren tapi belum pernah mengikuti
kegiatan yang ada dipesantren sekalipun.
“kamu lagi apa disini sendirian? aku juga sering melihat kamu
sendirian terus? Kenapa enggak gabung dengan teman yang lain?” kata abel salah
satu santri putra yang ngabdi didalemnya pak kyai sekaligus yang diamanati
untuk mengawasiku disini oleh pak kyai. Namun aku hanya diam dan mentapanya.
“ karna memang seharusnya aku tidak disini” kataku ketus dan
meninggalkan kang abel.
Adzan isya baru saja berkumandang, namun aku masih saja diam dan
memainkan gitar kesayanganku. aku masih saja selalu sendiri tidak seperti teman
pada umumnya yang mudah berbaur dengan teman yang lainnya.
“rudi kamu di suruh abah ke ndalemnya” kata kang abel. aku tak
berkata apapun, namun aku memenuhi tuntutan kang abel.
“assalamualaikum pak kyai”aku memberikan salam didepan rumah dan
melihat pak kyai sedang menungguku.
“walaikum salam, sini nak” kata abah. aku mendekati pak kyai untuk
mendengarkan apa yang dikatakan pak kyai. Jantungku cukup berdebar keras ketika
mendekati pak kyai.
“enggak papa kesini saja, abah Cuma ingin ngobrol-ngobrol sama
kamu”
aku duduk di samping pak kyai seraya siap untuk mendengarkan
perkataan beliau. Namun pak kyai masih diam dan merokok. Aku hampir tidak sabar
menunggunya. Namun aku tetap diam dan menunggu pak kyai.
“gimana sekolahnya, enggak ada masalah to?”
“enggak ada pak kyai”kataku menjawab pertanyaan beliau.
“sampean ngajinya sama abah saja ya, kita mulai dari dasar biar
kamu cepat bisa seperti mereka”kata pak kyai.
Aku salut dengan pak kyai yang mau ngajarin aku mengaji dari awal
seorang diri, mungkin pak kyai tau kalau aku jarang mengikuti kegiatan mengaji
karna aku merasa minder dengan yang lain. Pak kyai begitu perhatian terhadapku,
coba ayah dan bunda seperti pak kyai mungkin aku merasa mendapat perhatian yang
sempurna.
Sudah sebulan aku belajar dengan pak kyai dan aku senang karna aku
sudah merasa ada kemajuan yang aku alami. Dari pertama aku tak mengerti huruf
hijaiya sekarang aku sudah
mengetahuinya, dan sekarang aku sudah bisa membaca al-qur’an dengan sempurna.
“sekarang kamu sudah bisa membaca al-qur’an dengan sempurna,
sekarang kamu tinggal belajar kitab yang diajarkan disini” kata pak kyai, namun
aku tetap diam didepan pak kyai tapi tak berani menatapnya.
“ya sudah besok sampean jangan bolos ngaji terus kalau ingin cepat
bisa seperti yang lain, nanti kang abel bantuin kamu belajar kitab diluar jam
kegiatan”lanjut pak kyai. Aku masih tetap diam.
“ya sudah sana kembali ke komplek”. Akupun keluar meninggalkan
beliau. Aku sangat berterima kasih sama beliau yang rela meluangkan waktunya
untuk mengjariku mengaji sampai bisa dan dengan penuh kesabaranya dalam
membimbing.
Dan sekarang aku sudah mulai mengikuti kegiatan di pesantren dengan
sempurna tanpa bolos. Dan ternyata dipesantren aku juga tetap bisa memaikan
gitar kesayanganku, aku mengikuti eksta hadroh yang ada dipesantren walau
alatnya masih dengan alat hadroh tapi aku kadang sholawatan dengan gitarku.
teman-teman yang lain sangat menyukainya, dan kadang aku juga sering
mencampurkan suara dari alat hadroh dengan gitar yang aku mainkan.
“kamu lagi apa rud?” tanya hendra teman sekamarku.
“aku lagi buat syair untuk pentas seni besok”
Hari ini akhir tahun ajaran di pesantren, dan akhirnya aku naik
kelas dengan kemampuanku sendiri. Lomba-lomba dan kegiatan lain seperti pentas
seni diadakan setiap tahun setelah ujian kelas dipesantren.
“kalian tau tidak kalau teman kita dipesantren ini ada anak band”
kata kang ambar sebagai MC di acara pentas seni ini. Namun teman-teman santri
putra maupun putri masih heran siapa yang di maksud oleh kang ambar tadi.
“hemmm... sepertinya pada penasaran nih, kita langsung saja
panggilkan, ini dia anak band dari bandung, MUHAMMAD RUDI ALBIRD”kata kang
ambar dengan lantang
Tepuk tangan meriah mulai terdengar ditelingaku. Aku menaiki
panggung yang sudah disiapkan dan dipersilahkan. Aku mulai memainkan gitarku di
panggung.
“aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk orang yang bejasa kepada
kita, mungkin kalian sudah pernah mendengarnya”
Malamku yang indah Bulanku bersinar....
Kubawa kitab kuning di tanganku...
Selamat malam semua...
Ku nantikan dirimu di depan kelasku menantikan kami...
Ustadzku tercinta....
Ustadzku ku tersayang...
Tanpa mu apa jadinya aku...
Tak bisa baca kitab...
Tak bisa tulis arab...
Ustadzku terima kasihku..
Nyatanya diriku kadang buatmu marah, namun segala maaf kau
berikan..
lagu yang ku nyanyikan telah selesai dan tepuk tangan dari teman
santri membuatku merasa seperti anak band yang terkenal.
Acara pentas seni dan pembagian rapot telah selesai, hari ini para
santri diizikan untuk pulang. Namun aku masih di sini menunggu ayah yang akan
menjeputku.
“rudi kamu di suruh abah ke ndalem, katanya ada orang tuamu menjemputmu”kata
kang ambar
“Akhirnya ayahku datang juga”kataku dalam hati, aku bergagas menuju
ndalem pak kyai.
Aku melihat disana sudah ada ayah dan bundaku bersama pak kyai di
ruang tamu.
“assalamualaikum”kataku memberikan salam
“walaikum salam”jawab meraka serempak.
Aku mendekati ayah dan bunda untuk memberikan salam dengan mencium
tangannya dan untuk menunjukan kalau aku bukan rudi yang dulu. Dan aku duduk
disamping ayah.
“sekarang rudi sudah pintar ngaji kitab”kata pak kyai memberi
informasi tentang aku kepada orang tuaku.
“ya alhamdulillah kalau begitu pak, saya tadi juga lihat kalau
sekarang rudi sudah berubah menjadi anak yang sholeh”
“bagaimana rud menurut kamu pak kyai orangnya baikkan?”kata ayahku
kepdaku
“bagi rudi pak kyai bukan sekedar
guru bagi rudi dan teman-teman tapi pak kyai juga pahlawan bagi
rudi”kataku kepada ayah, menunjukan kalau aku berterima kasih sekali kepada pak
kyai.
Akhirnya kami berpamitan untuk pulang kebandung. Rasanya rindu
sekali sama daerahku yang sudah setahun tidak aku kunjungi. Dan sekarang aku
pulang dengan rudi yang baru.
“trimakasih abah, trimakasih ustadz dan trimakasih untuk orang
tuaku yang telah mengantarkanku ketempat yang menuju jalan yang diridhoi”kataku
dalam hati dengan penuh kebanggan kepada mereka.