Rabu, 31 Desember 2014

hanya satu cinta



Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.

 “Ar, aku perlu bicara sama kamu.”tiba-tiba adul datang ke kamarku
“ada apa, Coy?” ia masih diam, tak lngsung memenuhi tuntutanku.”Ayo, katakan saja,gak usah terlalu bersdih gitu. Pasti aku kasihan padamu jika kau sedang dalam masalah.”sengaja aku sedikit menciptakan keceriaan ditengah suasana muram yang sedang melanda hati adul. Meski usahaku tidak berhasil.akhirnya adul mau bicara blak-blakan.
“kemarin aku ketahuan pengurus sedang ngobrol sama nita di kelas B.” Adul kembali diam.sama sekali tidak mencerminkan dirinya yang terlahir dari rahim suku yang pemberani dan tegar.
“ terus... gwe harus bilang WOW,gitu..?” kataku untuk membuat hatinya tak risau.
“ ah.. kamu mah brcanda terus.”kata adul dengan memonyongkan bibirnya lebih dari 5cm.
“oke..oke...aq serius. Lantas,kenapa kamu segalau itu?”
“ Ya pastinya kami akan disidanglah Ar.”raut muka adul tampak bertambah parah,alisnya menyambung dan keningnya mengerut.
“Oke. Kamu ceritakan dulu permasalahannya.”
Ia nampak menarik nafas dalam dan panjang sebelum meneruskan ceritanya.
“Begini.... tadi malam,aku kan disuruh Gus hilmi untuk ngurus jeding di dalem beliau. Tanpa sengaja aku ketemu sama nita. Yah, kau tau sendiri kan aku cinta mati sama dia. Aku bilang sama dia,kalo aku ingin ngobrol sebentar. Ia pun mengiyakan ajakanku itu. Kami sepakati untuk bertemu di kelas B setelah jam ngaji malam selesai. Kami pun bertemu sesuai yang kami sepakati. Belum lama kami ngobrol,ada salah seorang pengurus keamanan putri yang memergoki kami yang sedang berduaan. Terus terang aku jadi celingkan,salting. Begitu juga nita. Keamanan itu gak bicara apa-apa. Ia lngsung kembali dan sudah pasti ia melapor pada atasannya. Singkatnya, tak lama lagi, kami berdua pasti disidang. Menurut kamu giman, Ar?”
“Tumben kau cerdas, dul.”
“ maksudmu...?hubungannya apa?
“itu...kau sudah memperkirakan konsekuensi atas tindakanmu sendiri.cocok juga kau jadi keamanan,Dul.”aku bergurau sekali lagi.
“serius nih... ayolah.jangan bergurau terus!.”
Aku mencoba memberikan saran seresional mungkin. Meskipun agak susah, pada akhirnya Adul sepakat dengan saranku. Dan ternyata benar. Malam harinya, dipanggil keamanan pondok. Sekeluarnya dari kantor keamanan,  ia langsng datang lagi padaku. Ia jelasin bahwa yang nyidang langsung kang ghofur. Ia mengancam akan melaporkan langsung pada mbah yai.
“ tunggu, Dul... aku ingin kau jujur padaku.kamu serius gak sama nita.?
“banget            lah,Ar!”
“kalau gitu kenapa kamu takut dengan ancaman kang ghofur.?”
“gimana nggak takut,entar kalau mbah yai aku dikeluarkan dari pondok, mau di taruh mana mukaku ini, Ar?”
“ taruh aja di lemari sekalian,hehehe,nggak,tapi menurutku mbah yai tidak akan mengeluarkan kebijakan itu. Paling mentok, kau akan di tunangin sama nita. Gimana, mau gak kamu?”
“mau sih mau. Tapi aku belum siap kalo langsung main tunangan.”
Dan ternyata benar,masalahnya berlanjut sampai pada meja mbah yai.karna adul menyampaikan keseriusannya dalam berhubungan. Namun karena mbah yai belum datang dari umroh, kasusnya diambil alih Gus hilmi,meskipun begitu Gus hilmi tidak langsung mengambil kesimpulan sendiri. Beliau memutuskan akan bermusyawarah dulu dengan mbah yai. Tapi untuk sementara waktu,diharap  adul dan nita tidak bertemu lagi, karena tindakan mereka masih dalam wilayah pelanggaran , mereka tetep di kenai sanksi. Pagi harinya adul diharuskan mengaji di halaman pondok menggunakan pengeras suara. Di dada dan punggung adul, terdapat kertas karaton bertuliskan:
“Akulah sang pemuja itu”



Sabtu, 20 Desember 2014

istilah-istilah dalam nahwu

Af’alul Khomsah                                   :   Fi’il yang lima yang terdiri dari wazan yaf’alaani, taf’alaani, yaf’aluuna, taf’aluuna, dan taf’aliina.
Alif Tasniyah                                          :   Alif yang menunjukkan makna ganda (dua) .
Asmaul Khomsah                                  :   Isim yang lima yang terdiri dari wazan   ذُوْ , فَمٌ , حَمٌ , اَخٌ , اَبٌ  
Athaf                                                         :     Tabi’ (lafazh yang mengikuti) yang antara ia dengan matbu’nya ditengah-tengahi oleh salah satu huruf ‘athaf .
       Badal                                                         :   Ialah tabi’ (lafadh yang mengikuti) yang dimaksud dengan hokum tanpa memaknai perantara antara ia dengan matbu’nya
Badal Ba’dh min Kul                            :   Badal sebagian dari semua .
Badal Isytimal                                        :   Ialah lafazh yang mengandung ma’na bagian dari matbu’nya, tetapi menyangkut masalah maknawi (bukan materi) .
Badal Ghalath                                        :   Ialah Badal yang tidak mempunyai maksud yang sama dengan matbu’nya, tetapi yang dimaksud hanyalah badal .
Badal Syai Minasyai                            :   Ialah Badal yang cocok dan sesuai dengan mubdal minhu-nya dalam hal makna .
       Dzamir Mutakalim Wahdah               :   Dzamir yang menunjukkan makna saya .
Dzaraf  Makan                                       :     Ism makan yang di-nashob-kan dengan memperkirakan makna Fii.
Dzaraf  Zaman                                       :     Isim zaman yang di-nashob-kan dengan memperkirakan makna Fii.
Dzaraf                                                      :   Isim yang dinashobkan yang mengandung makna Fii.
Fa’il                                                           :   Adalah isim marfu’ yangterletak setelah fi’il (kata kerja aktif/mabni li ma’lum) dan menunjukkan sebagai pelaku pekerjaan.
Fa’il  Isim Zhahir                                  :   Lafadz  Faíl yang menunjukkan kepada yang disebutkan tanpa ikatan
Fa’il  Isim Zhamir                                 :   Lafadz  Faíl yang menunjukkan kepada yang menunjukkan kepada pembicara (mutakallilm) atau yang diajak bicara (mukhatab) atu ghaib
Fi’il                                                            :   Kalimah (kata) yang menunjukkan makna mandiri dan disertai dengan pengertian zaman .
Fi’il Amar                                                :   Ialah kata kerja untuk orang ke-2 laki-laki atau orang ke-2 perempuan.
Fi’il Lazim                                              :   Kata kerja yang tidak membutuhkan objek.
Fi’il Mabni Lil Ma’lum                        :   Kata kerja yang disebutkan pelakunya atau kata kerja aktif .
Fi’il Mabni Lil Ma’lum                        :   Kata kerja yang tidak disebutkan pelakunya atau kata kerja pasif
Fi’il Madhi                                              :   Ialah kata kerja yang menunjukkan makna lampau, fi’il madhi paling sedikit terdiri dari tiga huruf dan paling banyak terdiri dari enam huruf.
Fi’il Madhi Tsulasi                                :   Fi’il madhi yang terdiri dari tiga huruf.
Fi’il Madhi Ruba’i                                 :   Fi’il madhi yang terdiri dari empat huruf.
Fi’il Madhi Khumasi                            :   Fi’il madhi yang terdiri dari lima huruf.
Fi’il Madhi Sudasi                                 :   Fi’il madhi yang terdiri dari enam huruf.
Fi’il Mudhori’                                         :     Kata kerja yang menunjukkan makna sekarang dan yang akan datang.
Fi’il Mu’tal                                              :   Kata kerja yang diantara huruf aslinya terdapat huruf illat.
Fi’il Muta’adi                                         :   Kata kerja yang membutuhkan objek .
Fi’il Shohih                                              :   Kata kerja yang huruf aslinya terlepas dari tiga huruf illat.
Hal                                                             :   Ism sifat yang memberikan keterangan keadaan yang samar .
Huruf                                                        :   ialah kata yang tidak mempunyai arti sempurna kecuali jika dihubungkan /digabungkan dengan kata lain, sehingga huruf ini berfungsi sebagai penghubung atau mediator antara kata benda dengan kata kerja atau juga antar sesame kata benda atau bahkan sesame kata kerja.
Huruf Jawazim                                      :     Ialah huruf yang men-sukun-kan (menjazmkan) huruf sesudahnya.
Huruf Khofad                                         :  Ialah huruf yang meng-kasroh-kan (mengejarkan) huruf sesudahnya.
Huruf Mudhoroah                                 :   Huruf yang menyertai fi’il mudhori’.
Huruf Nawashib                                     :     Ialah huruf yang meng-fatkhah-kan (menashobkan) huruf sesudahnya.
Huruf Qosam                                          :   Huruf untuk sumpah :و, ب , ت .
I’rab                                                          :   Perubahan akhir kalimat yang disebabkan oleh  perbedaan amil yang memasukinya, baik secara lafazh maupun perkiraan .
I’rab Jazm                                               :   I’rab yang mempunyai tanda umum berupa sukun, selain juga tanda-tanda yang lainnya .
I’rab Khofadh                                        :   I’rab yang mempunyai tanda umum berupa kasrah, selain juga tanda-tanda yang lainnya .
I’rab Nashob                                           :   I’rab yang mempunyai tanda umum berupa fatkah, selain juga tanda-tanda yang lainnya .
I’rab Rofa’                                              :   I’rab yang mempunyai tanda umum berupa dhammah, selain juga tanda-tanda yang lainnya .
Isim                                                           :   Kalimah (kata) yang menunjukkan makna mandiri dan tidak disertai dengan pengertian zaman .
Isim ‘Alam                                               :   Nama benda ataupun sesuatu yang ada.
Isim Dzaanna                                          :   Ialah Mubtada’ yang menerima perlakuan dari  dzanna dan saudara-saudaranya. Harus Manshub.
Isim Dzahir                                             :   Isim yang tampak.
Isim Ghoiru Munshorif                        :   Ialah Isim yang tidak bias menerima tanwin.
Isim Inna                                                  :   Ialah Mubtada’ yang menerima perlakuan dari  Inna dan saudara-saudaranya. Harus Manshub.
Isim Istifham                                          :   Ialah kata yang berfungsi sebagai kata Tanya.
Isim Isyarah                                            :   Ialah kata yang diletakkan sebagai penunjuk.
Isim Jama’                                              :   Kata benda yang menunjukkan lebih dari dua atau banyak  baik mudzakar maupun muanast.
Isim Kaana                                              :   Ialah mubtada yang menerima perlakuan dari kaana dan saudara-saudaranya. Harus  Marfu’.
Isim Ma’rifat                                          :   Ialah isim yang telah menunjukkan pada suatu benda tertentu.
Isim Mabni                                              :   Kata benda yang tidak mengalami perubahan harakat akhirnya meskipun berubah posisi dan jabatannya dalam kalimat.
Isim Maushul                                          :   Ialah kata sambung yang mengandung arti “Yang”.
Isim Mu’rab                                            :   Kata benda yang berubah-ubah harokat akhirnya sesuai dengan kedudukannya dalam kalimat.
Isim Mufrad                                            :   Kata benda yang menunjukkan tunggal baik mudzakar maupun muanast.
Isim Mufrad Munshorif                       :   Ialah isim yang menunjukkan makna tunggal dan bias menerima tanwin.
Isim Nakirah                                           :   Ialah setiap isim yang jenisnya bersifat umum yang tidak menentukan suatu perkara dan lainnya.
Ism Dhamir                                             :   Kata benda yang tersembunyi atau kata ganti untuk orang pertama, kedua, atupun ketiga.
Ism Dhamir  Munfashil                        :   Ialah dzamir yang dapat diucapkan dengan sendirinya dan selalu tersambung dengan kalimat lainnya.
Ism Dhamir  Mushtatir                        :   Ialah dzamir yang tersambung dengan kata kerjanya, tetapi tidak tampak dalam penulisan.
Ism Dhamir  Muttashil                         :   Ialah dzamir yang dapat diucapkan dengan sendirinya tanpa tersambung dengan kalimat lainnya.
Ism Tasniyyah                                        :   Kata benda yang menunjukkan ganda (dua) baik muanast ataupun mudzakar.
Istisna’                                                      :   Ialah isim yang terletak sesudah illa atau salah satu saudara-saudaranya.
Jama’ Muanas Salim                            :   Merupakan jama’ yang bentuknya teratur dan menunjukkan jenis perempuan (muannast).
Jama’ Mudzakar Salim                       :   Merupakan jama’ yang bentuknya teratur dan menunjukkan jenis laki-laki (mudzakar).
Jama’ Taksir                                          :   Merupakan jama’ yang bentuknya tidak beraturan dan banyak terjadi perubahan dari bentuk mufradnya, sehingga pola-polanya harus dihafalkan.
Jama’ Taksir Munshorif                     :   Isim yang menunjukkan makna jamak yang tidak beraturan dan bisa menerima tanwin.
Jumlah Ismiyah                                     :   Kalimat yang diawali dengan isim.
Jumlah Fi’liyah                                     :   Kalimat yang diawali dengan Fi’il.
Jumlah Dzarfiyah                                 :   Kalimat yang diawali dengan Dzaraf atau Huruf Jar.
Kalam                                                       :   Susunan suara yang mengandung sebagian huruf hijaiyyah yang sengaja diberikan oleh orang lain untuk memberikan kefahaman terhadap orang yang dituju .
Kalam Manfi                                          :   Kalam yang disisipi naïf, nahi, ataupun istifham.
Kalam Mujab                                         :   Kalam yang tidak disisipi naïf, nahi, ataupun istifham.
Kalam Naqis                                           :   Kalam yang tidak disebutkan mustatsna minhu-nya.
Kalam Tam                                             :   Kalam yang disebutkan mustatsna dan mustatsna minhu-nya.
Khobar                                                     :   Ialah Isim Marfu’ sebagai penyempurna makna mubtada’.
Khobar  Dzaanna                                  :   Khobar  yang menerima perlakuan dari Dzanna dan saudara-saudaranya . Harus Manshub’.
Khobar Inna                                           :   Khobar  yang menerima perlakuan dari Inna dan saudara-saudaranya . Harus Marfu’.
Khobar Kaana                                       :   Khobar yang menerima perlakuan dari kaana dan saudara-saudaranya. Harus  Manshub.
Khobar Mufrad                                     :   Ialah Khabar yang bukan berupa jumlah (kalimat) dan bukan pula menyerupai jumlah .
Khobar Mufrad                                     :   Ialah Khabar yang terdiri dari jumlah seperti jumlah ismiyyah maupun jumlah fi’liyyah.               
Lafadh                                                      :   Ucapan yang mengandung sebagian huruf hijaiyyah .
Ma’tuf                                                       :   Isim yang jatuh setelah huruf ‘Athof .
Ma’tuf Alaih                                           :   Isim yang jatuh sebelum huruf ‘Athof .
Maf’ul Bih                                               :   Isim manshub yang merupakan obyek yang dikenai pekerjaan pelaku (Fa’il)
Maf’ul Li Ajlih                                       :   Isim manshub yang dinyatakan sebagai penjelasan bagi penyebab terjadinya fi’il (perbuatan) .
Maf’ul Ma’ah                                         :   Isim manshub yang dinyatakan untuk menjelaskan dzat yang menyertai perbuatan pelakunya .
Man’ut                                                      :   Yang disifati .
Masdar                                                     :   Kata kerja yang dibendakan sehingga ia masuk kedalam golongan kata benda . Masdar ialah isim manshub yang dalam tasrifh-an fi’il jatuh pada urutan ketiga .
Mu’tal Akhir                                           :   Fi’il yang huruf akhirnya berupa huruf illat .
Muakad                                                    :   Sesuatu yang diikuti oleh Taukid.
Muanast                                                   :   Kata benda yang menunjukkan perempuan, baik manusia, binatang, maupun benda-benda mati.
Mubasyarah                                            :   Huruf Laa dengan Isim yang tidak dipisahkan.
Mubdal                                                     :   Sesuatu yang menjadi panutan badal.
Mubtada’                                                 :     Ialah isim marfu’ yang berada di awal kalimat (Jumlah ismiyyah) .
Mudzakar                                                :   Kata benda yang menunjukkan laki-laki, baik manusia, binatang, maupun benda-benda mati.
Mufid                                                        :   Memberikan kefahaman terhadap Mutakalim.
Mufrad ‘Alam                                        :   Mufrad yang menunjukkan nama .
Mukaroroh                                              :   Terulang .
Munada’                                                   :   Sesuatu yang dijadikan seruan .
Munfashil                                                :   Terpisah .
Murakab                                                  :   Ucapan yang tersusun atas dua kalimah atau lebih .
Mustasna’                                                :   Isim yang jatuh setelah huruf Istisna’ .
Mustasna’ Minhu                                   :   Isim yang jatuh sebelum huruf Istisna’ .
Muttashil                                                  :   Tersambung dengan
Na’at                                                         :   Ialah sifat yang mengikuti kepada lafadz yang diikutinya, baik dalam hal rafa’, nashab, khafadh, ma’rifat, maupun nakirahnya .
Naibul Fa’il                                             :   Ialah isim marfu’ yang tidak disebutkan fa’il-nya. Apabila fi’il-nya fi’il madhi, maka dhammah-kanlah huruf awalnya dan huruf sebelum akhirnya di-kasrah-kan. Dan apabila fi’il-nya fi’il mudhari’ maka dhammah-kanlah huruf awalnya dan huruf sebelum akhirnya di fatkhah-kan.
Nakirah Ghairu Maqsudah                 :   Nakirah yang tidak ditentukan maksudnya .
Nakirah Maqsudah                               :   Nakirah yang ditentukan maksudnya.
Shohibul Hal                                           :   Isim ma’rifat yang dijelaskan perbuatannya oleh Hal .
Tamyiz                                                     :     Ialah Isim Manshub yang berfungsi menjelaskan dzat yang samar .
Taukid                                                      :   Tabi’ (lafazh yang mengikuti) yang berfungsi untuk melenyapkan anggapan lain yang berkaitan dengan lafazh yang di taukid-kan .
Wad’i                                                        :   Menyengaja menjadikan lafazh agar menunjukkan suatu makna (pengertian) .
Ya’ Muanas                                             :   Ya’ yang menunjukkan makna perempuan .